Sistem Tanam Hidroponik yang Populer di Indonesia



Sistem tanam hidroponik yang populer di Indonesia tidak banyak. Karena bagi orang Indonesia, beberapa sisitem tanam hidroponik cukup sulit dan membutuhkan biaya besar. Sehingga dipilhlah beberapa dari sistem tersebut.

Setidaknya ada 6 sistem tanam hidroponik yang sering dipraktekkan orang Indonesia untuk kebun hidroponiknya. Sistem tanam tersebut adalah Wick System / Sistem Wick, Water Culture / Kultur Air, Ebb and Flow, Drips System / Sistem Drips, NFT / Nutrient Film Technique dan Aeroponik.

Nah, kenapa sistem tersebut bisa populer di indonesia? Mari kita bahas satu per satu.

1. Wick System / Sistem Wick

Wick System / Sistem Hidroponik Wick - Hidroponikyuk

Wick System / Sistem Wick biasanya dikenal sebagai sistem sumbu. Jadi dalam sistem tanam hidroponik yang satu ini, wadah tanamnya dibuat dengan sistem sumbu. Sistem ini sama seperti sistem pada obor, lampu teplok, dan ublik (lampu minyak tanah).

Jadi dalam sistem tanam hidroponik wick system, ada dua perangkat yang dibutuhkan, yakni wadah untuk nutrisi dan juga sumbu. Wadah bisa apa saja, asalkan bisa menampung nutrisi hidroponik. Sedangkan sumbu bisa menggunakan sumbu dari baju bekas, sumbu kompor, atau kain flanel.

Sistem tanam hidroponik yang satu ini bisa dibilang paling murah dan mudah. Karena kita bisa memanfaatkan bahan-bahan disekitar kita. Bahkan kita bisa memanfaatkan bahan-bahan sampah. Misalkan saja kita bisa membuatnya menggunakan botol bekas dan juga kain yang tidak terpakai.

Jadi biaya untuk berkebun hidroponik lebih terjangkau. Karena tidak perlu beli starter kit atau paralon untuk perlengkapannya. Tinggal beli nutrisi hidroponik, rockwool dan bibitnya saja.

  • Kelebihan sistem wick: Biaya sangat terjangkau dan pembuatannya mudah.
  • Kekurangan sistem wick: Satu perangkat tanam hanya bisa untuk satu tanaman, sehingga makan tempat banyak.

2. Water Culture / Kultur Air

Water Culture / Sistem Hidroponik Kultur Air - Hidroponikyuk

Water Culture / Kultur Air di indonesia lebih familiar dengan nama sistem tanam rakit apung. Sistem tanam hidroponik ini menggunakan sistem sederhana juga, hanya perlu tiga bahan saja. Wadah untu tempat nutrisi, gabus/sterofoam, dan net pot.

Kalau dibandingkan dengan sistem wick, sistem rakit apung hanya menambah biaya di net pot saja. Tapi tenang, harga satuan net pot juga tidak mahal kok, apa lagi kalau belinya borongan. Bisa dapat potongan juga.

Nah, kalau kita memakai sistem ini, biaya yang dikeluarkan juga tergolong murah. Karena wadahnya bisa memakai apa saja, misalkan baskom, bak mandi anak, kolam terpal, atau bahkan kolam semen bekas memelihara ikan.

Sedangkan sterofoam dapat menggunakan sterofoam bekas atau beli baru, harganya murah kok. Tetapi kalau ingin yang mudah tanpa ribet, beli saja starter kit hidroponik.

  • Kelebihan sistem rakit apung / kultur air: Biaya lumayan terjangkau, pembuatannya juga mudah, satu perangkat bisa untuk banyak tanaman.
  • Kekurangan sistem rakit apung / kultur air: Untuk yang berebentuk kolam (terpal/permanen) tidak bisa dipindah-pindah. Jadi harus ditambahkan atap rumah kaca agar air hujan tidak masuk dan pH nutrisi terjaga.

3. Ebb and Flow

 

Ebb and Flow / Sistem Hidroponik Pasang Surut Ebb and Flow - Hidroponikyuk

Ebb and Flow umum dikenal dengan sebutan sistem pasang surut. Jadi untuk sistem pasang surut ini sama saja seperti sistem pengairan tanaman biasa. Pada pengairan biasa, tanaman disiram lalu lama-kelamaan akan kering, lalu disiram lagi. Nah, untuk sistem tanam hidroponik yang satu ini juga sama.

Nutrisi disiramkan dari wadah nutrisi yang ada di bawah ke wadah tanam (berlubang kecil-kecil) di atasnya, disebut fase pasang. Selanjutnya air di wadah tanam lama kelamaan akan menetes ke bawah (ke wadah nutrisi), disebut fase surut. Begitu seterusnya berulang-ulang. Itulah kenapa sistem tanam hidroponik ini disebut sistem pasang surut / ebb and flow.

Sistem ini sedikit rumit dan juga butuh perlengkapan banyak. Diantaranya adalah dua wadah (wadah nutrisi dan wadah tanam), pipa sedang, pompa air akuarium, dan juga net pot. Namun untuk wadah, selang dan pompa akuarium masih bisa menggunakan yang ada di rumah, tidak usah beli, kecuali kalau tidak punya. Jadi tergolong masih murah juga kok.

  • Kelebihan sistem ebb and flow / pasang surut: Bisa untuk banyak tanaman dan sistem bekerja otomatis jadi hanya perlu mengontrol penambahan nutrisi saja.
  • Kekurangan sistem ebb and flow / pasang surut: Biaya agak mahal, insatalasi/perakitannya agak susah dan sedikit menambah biaya tagihan listrik untuk menyalakan pompa akuariumnya setiap hari.

4. Drips System / Sistem Drips

Drips System / Sistem Hidroponik Drips atau Irigasi Tetes - Hidroponikyuk

Drips System / Sistem Drips adalah nama lain dari sistem irigasi tetes. Dimana sistem tanam hidroponik ini termasuk yang agak rumit untuk instalasinya. Bahan yang digunakan juga lumayan banyak, sehingga sedikit menambah biaya. Bahan yang dibutuhkan diantaranya adalah dua wadah (wadah tanam dan wadah nutrisi), selang kecil, pompa air akuarium.

Instalasinya hampir sama degan sistem tanam hidroponik pasang surut / ebb and flow. Namun ada perbedaan sedikit, dimana nutrisi dari bawah dipompa ke atas kemudian dialirkan ke lubang tanaman menggunakan selang kecil. Aliran nutrisinya dibuat tetes demi tetes terkontrol.

Nah, air yang menetes ke bawah nantinya akan mengalir ke bawah menuju wadah nutrisi lagi. Begitu dan seterusnya sistem tanam hidroponik ini bekerja.

  • Kelebihan sistem drips / irigasi tetes: Bisa untuk menanam banyak jenis tanaman, sistem bekerja secara otomatis, cocok untuk jenis tanaman umbi-umbian yang tidak butuh air banyak.
  • Kekurangan sistem drips / irigasi tetes: Biaya cenderung agak mahal, insatalasi dan perakitan sedikit rumit, ada biaya tambahan untuk listrik pompa akuarium.

5. NFT / Nutrient Film Technique

NFT / Nutrient Film Technique / Sistem Hidroponik NFT - Hidroponikyuk

NFT / Nutrient Film Technique adalah sistem tanam hidroponik yang paling banyak digunakan di indonesia. Mulai dari kebun hidroponik skala rumahan sampai skala komersil. Sistem tanam hidroponik NFT dipandang lebih mudah, hemat tempat dan juga perakitannya mudah dibanding dengan Drips dan Ebb and Flow.

Bahkan dalam perkembangannya sangat mudah untuk dimodifkasi menjadi banyak variasi perangkat tanam. Ada yang disusun datar, piramid, vertikal, dan juga susnan miring. Bahkan untuk pipa paralonnya bisa diganti talang air kotak.

Sistem tanam hidroponik NFT mudah dipindah-pindah dan dibongkar pasang sesuai kebutuhan. Cocok di terapkan untuk lahan terbuka maupun di dalam rumah kaca.

Bahan yang diperlukan juga tidak banyak, hanya butuh pipa paralon/talang, net pot, pompa air akuarium, selang sedang, dan rak tata. Untuk rak tata bisa dibuat dari bambu atau dari kayu biasa. Asalkan kuat untuk menupang paralonnya saja sudah bisa.

  • Kelebihan sistem NFT: Cocok untuk menanam banyak tanaman, sistem ini juga bekerja otomatis, instalasi mudah dan bisa dibongkar pasang.
  • Kekurangan sistem NFT: Biaya agak mahal sedikit, proses pelubangan susah dan memakan waktu, tagihan listrik bertambah untuk menyalakan pompa akuarium.

6. Aeroponik

Aeroponik / Sistem Hidroponik Aeroponik - Hidroponikyuk

Aeroponik adalah sistem tanam hidroponik yang menggunakan bantuan angin. Dengan kata lain, untuk menyalurkan nutrisinya dibutuhkan alat penyemprot.

Tujuannya agar nutrisi yang ada pada wadah bisa terdistribusi ke akar tanaman secara pas. Sehingga akar tanaman tidak selamanya terendam air nutrisi. Sistem tanam hidroponik ini sangat cocok untuk jenis tanaman umbi atau tanaman buah yang rentan air.

Nah, dengan sistem tanam hidroponik ini. Nantinya tanaman akan terhndar dari kebusukan akar dan umbi. Bahkan jika tanaman sangat rentan air, maka tanaman bisa tumbuh baik. Hanya saja perlengkapan dan biaya operasionalnya cukup mahal dibanding yang lain.

Karena dalam aeroponik ada alat khusus yang mengatur semprotan airnya. Jadi air tidak disemprotkan setiap saat, melainkan berkala. Nah alat pengatur semprotannya itu yang menambah biaya operasional. Namun untuk tanaman umbi dan buah rentan air, hasil panennya akan jauh lebih optimal jika menggunakan sistem ini.

  • Kelebihan sistem aeroponik: Bekerja secara otomatis dan berkala, cocok untuk jenis tanaman umbi dan tanaman buah yang rentan air.
  • Kekurangan sistem aeroponik: Biaya cenderung lebih mahal dibanding yang lain, insatalasi dan juga perakitan cukup rumit, biaya operasional lebih mahal.

Nah, itulah 6 sistem tanam hidroponik yang familiar dan populer di indonesia. Setiap sistem punya kelebihan dan kekurangan tersendiri. Karakteristiknya juga berbeda satu dengan yang lain. Tinggal sesuaikan saja dengan kebutuhan yang kita inginkan.

Jika memang tidak ada biaya lebih, terapkan saja sistem tanam hidroponik yang paling murah. Jika bahan masih bisa diganti dengan bahan atau peralatan yang ada di rumah, maka gunakan yang ada di rumah.

Semoga tidak ada penjelasan di atas yang masih membingungkan. Kalau ada pertanyaan atau hal yang masih belum paham bisa ditanyakan melalui komentar di bawah. Karena sebenarnya banyak sekali ide-ide dan kreatifitas tentang peralatan pengganti yang bisa kita diskusikan di sini.

3 Comments

  1. Elisa
    • Hidroponik Yuk!
      • Bagus Mursid

Leave a Reply