Hidroponik dan Sejarahnya



Hidroponik bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi. Namun untuk sebagian orang yang lain tentu masih menimbulkan banyak pertanyaan. Umumnya pertanyaan tersebut berkutat pada tiga pertanyaan, yakni apa itu hidroponik? Asal usul sejarahnya bagaimana? Serta bagaimana cara menerapkan hidroponik tersebut?

Nah, ketiga pertanyaan di atas sangatlah bagus dan memang sudah seatutnya ditanyakan pada awal mula mengenal hidroponik. Sebab dengan terjawabnya tiga pertanyaan tersebut, biasanya seseorang akan memppunyai gambaran awal sebelum memulai menerapkan metode hidroponik. Terlebih lagi jika disertai dengan mempelajari lebih lanjut tentang teknik menanam hidroponik dan mempraktekkannya sendiri.

Baiklah mari kita bahas satu per satu secara berurutan supaya menjadi jelas.

Apa itu hidroponik

1. Apa itu Hidroponik?

Hidroponik sebenarnya berasal dari bahasa Yunani, dimana kata hidroponik terbagi menjadi dua suku kata, yakni “hidros” dan “ponos” . Hidros (hydro dalam bahasa inggris) artinya air, sedangkan Ponos (ponic dalam bahasa inggris) artinya mengerjakan. Jadi secara istilah bahasa, hidroponik adalah metode bercocok tanam dengan menggunakan air sebagai medianya.

Jadi yang membedakan metode bercocok tanam hidroponik dengan bercocok tanam konvensional adalah pada media bercocok tanamnya. Pada hidroponik kita menggunakan media air, sedangkan pada metode konvensional kita menggunakan tanah. Sehingga hidroponik bisa dibilang termasuk kedalam inovasi perkembangan teknik bercocok tanam yang modern.

sejarah hidroponik

2. Bagaimanakah Asal-usul dan Sejarah Hidroponik?

Sejarah hidroponik berawal dari tulisan Francis Bacon (1627) yang sangat terkenal yakni Sylva Sylvarum yang sudah membahas tentang budidaya tanaman tanah di media selain tanah. Setelah tulisan itu dipublikasikan, maka John Woodward (1699) memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Dimana dia mendapatkan hasil bahwa tanaman yang ditumbuhkan pada air jernih (hanya air murni saja) tidak lebih bagus dari tanaman yang tumbuh di air keruh (air yang bercampur sedikit lumpur). Itu artinya air tidak cuku mengandung zat nutrisi untuk tanaman tumbuh dengan subur.

Selanjutnya penelitian itu terus berkembang, dan hasilnya baru terlihat di tahun 1842. Julius von Sachs dan Wilhelm Knop berhasil menemukan sembilan elemen nutrisi yang dibutuhkan tanaman agar bisa tumbuh subur. Sehingga di tahun 1859-1865 mualilah dibuat nutrisi yang berisi 9 elemen nutrisi kesuburan tanaman tersebut dalam bentuk larutan. Nah, ini lah nantinya yang akan menjadi cikal bakal nutrisi hidroponik yang mamu menggantikan fungsi unsur hara dalam tanah. Sehingga bercocok tanam dengan media air akan menghasilkan tanaman yang sama suburnya atau bahkan lebih subur daripada tanaman yang ditanam di tanah.

Hasil penelitian tersebut selain menegaskan bahwa bercocok tanam dengan media non tanah itu sangat mungkin, juga sekaligus mejadi pijakan penting dalam teknologi bercocok tanam modern. Bahasa akademisinya sering dikenal sebagai solution culture, yakni teknik bercocok tanam tanpa media tanam atau teknik inert. Dimana unsur nutrisi/hara dan media tanam menjadi satu dalam air.

Puncak dari penelitian tentang metode bercocok tanam modern ini adalah di abad 19. Adalah seorang William Frederick Gericke (1929) dari Universitas California, Berkeley yang menemukan metode bercocok tanam hidroponik. Mulanya, namanya belum hidroponik, kala itu masih aquaculture atau budidaya perairan. Namun ternyata akuakultur sudah lebih dulu dipakai untuk menamakan metode budidaya hewan air. Sehingga disarankanlah oleh rekannya bernama WA Setchell untuk diberi nama hidroponik.

Dari penelitiannya tentang hidroponik, William Frederick Gericke berhasil menumbuhkan tanaman tomat setinggi 25 kaki di halaman belakang rumahnya. Setelah penelitiannya memerlihatkan hasil yang memuaskan, maka dia meminta izin untuk menggunakan fasilitas kampus berupa greenhouse untuk penelitian lebih lanjut. Namun usul itu ditolak oleh pihak kampus yang ragu tentang hal tersebut. Namun dilain sisi, dia didesak kampus untuk memberikan resep nutrisi tersebut. Ia menyanggupinya, Gericke diberikan fasilitas rumah kaca beserta teknologinya.

Tetapi di saat bersamaan, dia di tusuk dari belakang oleh pihak Universitas. Pihak universitas mengutus Hoagland dan Arnon untuk menyusun kembali formula nutrisi hasil penelitian Gericke tanpa izinnya. Akhirnya, Gericke yang merasa dipermainkan memilih untuk mempublikasikan formulanya secara luas agar tidak terjadi monopoli Universitas. Sehingga di tahun 1940 Gericke mempublikasikan tulisannya yang berjudul Complete Guide to Soil less Gardening. Isinya meliputi hidroponik secara keseluruhan, mulai dari teknik, media, nutrisi dan langkah-langkah bercocok tanam hidroponik.

Beberapa sistem tanam hidroponik hasil perkembangan beberapa penelitian di atas kemudian berkembang sangat pesat. Ada yang berkembang menjadi sistem tanam sederhana ada juga yang memanfaatkan teknologi khusus. Perkembangan tersebut telah diadopsi ke seluruh penjuru dunia tanpa terkecuali Indonesia. Bahkan beberapa sistem tanam hidroponik yang terlihat sederhana justru sangat populer di Indonesia.

cara menanam hidroponik

3. Bagaimana Cara Menerapkan Hidroponik?

Cara menerapkan hidroponik tidaklah sulit, bahkan tergolong sangat mudah. Sehingga hidroponik sudah mulai banyak diterapkan secara luas. Meskipun begitu, mulanya hidroponik sebenarya masih diterapkan sebatas untuk mengatasi permasalahan bercocok tanam saja. Jadi dari sekian banyak penelitian di atas, mulanya ditujukan untuk mencari cara agar tetap bisa berocok tanam di tempat yang tanahnya kurang berkualitas. Seperti misalnya tanah berbatu, tanah berpasir, tanah gersang dan juga tanah tercemar limbah.

Namun seiring berkembangnya waktu, teknik bercocok tanam juga diterapkan lebih lanjut. Khususnya di era modern ini yang mulai muncul masalah keterbatasan lahan tanam dan juga kebutuhan bahan pangan yang tinggi. Sehingga banyak negara yang menerapkan hidroponik untuk mengatasi masalah tersebut. Sebut saja Amerika, Kanada, Negara-negara Arab, bahkan sampai menyebar di Asia. Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang sangat fokus dalam penerapan metode hidroponik modern. Selain itu kemudahan dari hidroponik juga jadi salah satu alasan yang mendorong menjamurnya penggunaan metode hidroponik.

Nah, mengapa bisa hidroponik itu mudah? Ya karena hidroponik tidak membutuhkan lahan luas dan juga perawatan yang rumit. Cukup sesuaikan denga tempatnya lalu lakukan perawatan biasa saja, yakni menyirami rutin dan memanennya berkala. Sudah itu saja. Ngomong-ngomong soal alat dan bahannya cukup sederhana. Kita hanya perlu air, nutrisi hidroponik, benih tanaman dan juga wadahnya saja.

Wadah fungsinya untuk menampung air dan nutrisi sebagai media tumbuh tanaman. Wadah bisa apa saja, mau pakai kit starter hidroponik, perkakas rumah tangga atau bahkan barang bekas pun juga bisa. Untuk tanamannya juga tanaman biasa yang umum ditanam di tanah, khususnya tanaman buah dan sayur. Benihnya bisa membeli benih hidroponik atau benih yang biasa untuk tanaman buah dan sayur urban farming. Nah, khusus untuk nutrisi hidroponik ini yang sangat penting dan harus khusus. Karena nutrisi hidroponik berbeda dengan pupuk tanaman tanah. Jadi untuk bercocok tanam hidroponik, sebelumnya kita harus membeli nutrisi hidoponik terlebih dahulu.

Jadi sepanjang kita sudah mempunyai alat dan bahan yang sudah disebutkan di atas, maka kita sudah bisa menanam tanaman dengan metode hidroponik. Sekali lagi, masalah luas lahan, kondisi lahan, maupun musim tidak jadi masalah. Karena metode hidroponik daat diterapkan dimana pun asal alat, bahan dan teknik hidroponik nya dilakukan dengan benar. Sebab selain alat dan bahan, teknik dan perlakuan terhadap tanaman hidroponik juga khusus, tidak sama dengan tanaman yang ditanam di media tanah.

Nah, jadi seperti itulah jawaban sekaligus penjelasan dari tiga pertanyaan di atas. Semoga mampu memberikan gambaran awal tentang hidroponik dan juga memuaskan rasa penasaran kita tentang hidroponik. Intinya hidroponik itu mudah kok kalau kita mau belajar. Jadi jika ada pertanyaan mengganjal, atau rasa penasaran yang tersisa, jangan sungkan untuk bertanya melalui komentar di bawah. Mari sama-sama belajar dan memulai hidroponik di pekarangan rumah untuk hobi dan konsumsi keluarga.

Leave a Reply